Pilih jumlah yang akan Anda donasikan tiap Bulan
Pilih jumlah yang akan Anda donasikan
0 Donasi
Di Antara Huruf yang Hilang
Di sebuah desa kecil di Kabupaten Bima, pagi dimulai dengan langkah-langkah kecil anak-anak menuju sekolah. Mereka berjalan menyusuri jalan tanah, membawa harapan di dalam tas mereka—meski kadang tanpa buku, tanpa alat tulis, dan tanpa kepastian bahwa hari itu mereka akan benar-benar belajar.
Di ruang kelas yang dindingnya mulai retak dan atapnya bocor, mereka duduk rapi. Namun di balik kerapian itu, ada kenyataan yang sering tak terlihat: banyak dari mereka belum bisa membaca, menulis, atau menghitung. Huruf-huruf belum menjadi jendela dunia bagi mereka.
Gambaran ini bukan hanya berasal dari satu sekolah. Di delapan SD Negeri di Kabupaten Bima yang dikunjungi, hasil assessment oleh YAPPIKA-ActionAid menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% siswa kelas 3–5 yang mampu membaca dengan lancar. Artinya, 4 dari 5 anak masih tertinggal. Di SD Bala, kondisinya jauh lebih berat—94,55% siswanya belum bisa membaca.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm keras bagi masa depan pendidikan anak-anak, dan pengingat bahwa ketimpangan literasi begitu nyata.

Ketimpangan yang Nyata
Jika kita melihat lebih jauh, kondisi ini sejalan dengan gambaran nasional. Skor PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara, dengan skor membaca 347 poin, menurun dibandingkan tahun 2018. Indeks Aktivasi Literasi Membaca (Alibaca) 2023 juga menunjukkan bahwa mayoritas provinsi di Indonesia masih berada pada tingkat aktivitas literasi yang rendah.
Di beberapa kota besar, banyak anak sudah bisa membaca dengan baik sejak dini. Namun di wilayah lain, termasuk Bima, anak-anak masih berjuang mengenal huruf. Ketimpangan inilah yang membuat saya merasa kita tidak bisa tinggal diam.
Literasi bukan hanya soal pelajaran sekolah. Ia adalah soal keadilan, hak pendidikan, dan masa depan.
Harapan Itu Ada
Di tengah berbagai keterbatasan—minimnya buku bacaan, guru yang belum mendapatkan pelatihan yang memadai, serta fasilitas sekolah yang kurang layak—harapan tetap menyala.
Pendekatan belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak di salah satu sekolah di Bima, terbukti mampu menurunkan jumlah siswa yang belum bisa membaca secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tetapi benar-benar bisa terjadi ketika ada perhatian dan dukungan.
Mengapa Program Ini Penting
Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang layak. Ketika anak tertinggal dalam kemampuan membaca sejak dini, risiko ketertinggalan di jenjang berikutnya semakin besar.
Dengan mendukung program literasi di Bima, kita ikut membuka akses belajar yang lebih adil—memberikan anak-anak kesempatan untuk memahami pelajaran, membangun kepercayaan diri, dan menatap masa depan dengan harapan.
Satu Kebaikan, Dampak Panjang
Bagi kita, mungkin ini hanya satu kontribusi.
Namun bagi anak-anak di Bima, ini bisa menjadi:
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca dan menjadi bagian dari upaya menghadirkan harapan belajar bagi anak-anak di Bima.
Salam hangat,
Stephen Kevin Giovanni
Sahabat YAPPIKA-ActionAid sejak 19 Maret 2022